Jamie Dimon dari JPMorgan Mendesak Pemerintah untuk Menutup Bitcoin

Naufi Norita
| 2 min read

Jamie Dimon dari JPMorgan Mendesak Pemerintah

Dalam sidang Komite Perbankan Senat di Capitol Hill, CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, menyatakan penentangannya yang kuat terhadap mata uang kripto, khususnya Bitcoin (BTC).

Pernyataan Dimon ini muncul sebagai tanggapan atas pertanyaan dari Senator Elizabeth Warren, di mana ia mengklaim bahwa satu-satunya kasus penggunaan mata uang kripto yang sebenarnya adalah untuk para penjahat yang terlibat dalam kegiatan seperti perdagangan narkoba, pencucian uang, dan penghindaran pajak.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa jika dia berada di pemerintahan, dia akan menutup mata uang kripto sama sekali.

Komentar Dimon tidak sepenuhnya mengejutkan, karena dia telah menjadi kritikus vokal terhadap bitcoin dan mata uang digital lainnya di masa lalu.

Dia sebelumnya pernah menyebut Bitcoin sebagai “penipuan yang berlebihan” dan bahkan membandingkannya dengan “batu peliharaan”.

Terlepas dari sikap negatifnya terhadap mata uang kripto, JPMorgan telah secara aktif terlibat dengan teknologi blockchain, teknologi yang mendasari mata uang kripto, dan telah terlibat dalam berbagai proyek blockchain.

Dimon juga menemukan kesamaan dengan Senator Warren selama rapat dengar pendapat ketika membahas perlunya perusahaan kripto mematuhi peraturan anti pencucian uang yang sama dengan lembaga keuangan tradisional.

Warren, yang dikenal dengan sikap kritisnya terhadap industri perbankan, menekankan pentingnya keamanan nasional dan mencegah teroris, pengedar narkoba, dan negara-negara jahat memanfaatkan mata uang kripto untuk tujuan terlarang.

Dia meminta Kongres untuk mengambil tindakan dalam hal ini.

Akun Kripto Hanya Menyumbang Kurang dari 1% dari Keuangan Gelap


Masalah aktivitas keuangan terlarang dalam ruang lingkup mata uang kripto telah menjadi topik perdebatan.

Para kritikus sering menyuarakan kekhawatiran tentang potensi penyalahgunaan mata uang kripto, mengutip penggunaannya dalam kegiatan ilegal.

Namun, analisis dan pernyataan terbaru dari para ahli industri menawarkan perspektif yang berbeda.

Andrzej Gwizdalski, seorang dosen di University of Western Australia, telah menjelaskan skala aktivitas ilegal dibandingkan dengan mata uang fiat tradisional.

Gwizdalski mengumpulkan data dari sumber-sumber terkemuka seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Forum Ekonomi Dunia, dan perusahaan analitik blockchain Chainalysis untuk membandingkan aktivitas ilegal dalam mata uang kripto dan mata uang fiat tradisional.

Temuannya mengungkapkan bahwa volume aktivitas terlarang dalam mata uang kripto jauh lebih rendah dibandingkan dengan sistem keuangan tradisional.

Kantor Narkoba dan Kejahatan PBB memperkirakan bahwa pencucian uang global mencapai 2-5% dari PDB global, setara dengan $800 miliar hingga $2 triliun, terutama terjadi dalam mata uang fiat.

Selain itu, World Economic Forum melaporkan bahwa korupsi merugikan negara berkembang sekitar $1,26 triliun per tahun, yang menyoroti prevalensi aktivitas ilegal dalam sistem keuangan tradisional.

Wawasan dari para ahli industri ini menggarisbawahi pentingnya perspektif ketika membahas aktivitas keuangan ilegal.

Meskipun mata uang kripto telah dikaitkan dengan penggunaan ilegal, skala aktivitas tersebut tidak seberapa dibandingkan dengan sistem fiat tradisional.

Penting untuk mempertimbangkan konteks yang lebih luas dan mengatasi tantangan dalam kedua sistem untuk memastikan regulasi yang efektif dan mencegah aktivitas ilegal.